Kamis, 21 Maret 2013

Khutbah Huzur 15 Maret 2013


Kiat Membina Ta’aluq Billah yang Haqiqi
Ikhtisar Khutbah Jumah Hadhrat Khalifatul Masih V Atba
15 Maret 2013 di Masjid Agung Baitul Futuh London


===========================================
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُوَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)






artinya, ‘Mereka akan berkata, “Ya Tuhan kami, telah menguasai atas diri kami nasib buruk kami, dan kami menjadi kaum yang sesat.
‘’Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya, maka jika kami kembali dhzalim, maka sungguh kami orang aniaya.
Maka Dia berfirman, ‘’Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan jangan kamu berbicara dengan Aku’
‘Sesungguhnya ada segolongan di antara hamba-hamba Kami yang berkata, ‘‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman: maka ampunilah dosa-dosa kami dan kasihanilah kami, dan Engkaulah yang sebaik-baiknya Pemberi rahmat.’
‘’Maka kamu jadikan mereka cemoohan, sehingga mereka membuat kamu lupa mengingat-Ku dan kamu terus-menerus menertawakan mereka.’
‘’Sesungguhnya Aku telah memberikan balasan mereka pada hari ini atas kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah yang memperoleh kemenangan.’ (Q.S. 23 / Al Muminun : 107-112).
            Pada Khutbah Jumah yang lalu, merujuk kepada ikhtisar penjelasan dari Hadhrat Imam Mahdi a.s., telah dijelaskan mengenai hakekat doa; dan ketenteraman qalbu yang diperoleh daripadanya; serta falsafah dan persyaratan cara memanjatkannya.
            Telah dinyatakan di dalam Al Quran Karim mengenai esensi dan falsafah doa, yang ilmunya telah dikaruniakan Allah Taala kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s., yang kemudian beliau bukakan kepada kita.
            Berbagai ikhtisar tulisan beliau a.s. dan semacamnya itu, meskipun ringkasannya, adalah sarana yang sangat berfaedah mengenai doa-doa yang siddiqiyah; yang apabila dipraktekkan dapat mendekatkan kita kepada Allah Taala, dan membuat kita faham akan realita doa.
            Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Adalah sangat penting pula agar doa menjadi makbul, bahwa si pemohon meng-inqillab, atau mengadakan perubahan suci di dalam dirinya sendiri. Sebab, doa tak akan makbul jika yang memohon tidak berusaha menjauhi perbuatan buruk dan dhzalim, atau melampaui batas atas segala ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Taala.’
            Beliau a.s. pun bersabda: ‘Suatu ikatan yang fana sangat diperlukan dalam berhubungan dengan Allah Swt. Kami telah berungkali menasehati Jama’at agar bersiteguh dalam hal ini. Karena sebelum berhasil melepaskan diri dari ikatan duniawi dan cinta dunia menjadi dingin, kemudian ghairah dan ikatan dengan Allah Taala juga ‘tak ada, maka ta’aluq billah itu pun tak akan terjadi.’
            Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Manakala doa-doa telah dipanjatkan sepenuh ikhlas kepada Allah Taala, maka niscaya akan membawa perubahan yang sangat istimewa. Hendaklah senantiasa diingat, bahwa makbuliyatnya doa-doa adalah semata-mata karunia Allah Taala, dan ‘ada waktunya yang telah ditentukan untuk memanjatkannya.
            Sebagaimana pagi dinihari adalah saat yang sangat istimewa, yang kekhasannya tak akan dapat diperoleh pada waktu-waktu lainnya; maka begitulah ada saat-saat tertentu yang membuat makbuliyat dan berkhasiatnya doa-doa.’
            Jadi, berbagai hasilnya yang positif dapat diperoleh manakala dipanjatkan dalam kondisi [fisik] yang segar bugar di pagi dinihari.
            Maka mereka yang begadang hingga larut malam, menonton TV atau ber-internet, tak dapat mendirikan Salat [di pagi dinihari] dengan sempurna, tak juga dapat melaksanakan berbagai kewajibannya dengan produktif.
            Yakni, sebagaimana pentingnya bekerja ketika raga dalam keadaan segar-bugar, maka carilah saat yang paling tepat untuk memanjatkan doa.
            Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Rahimiyyat Allah Taala ada beserta mereka yang senantiasa ingat dan takut kepada-Nya di saat suka maupun duka.
            Allah Taala tak akan melupakan insan yang demikian, ketika mereka berdoa dalam keadaan susah.
            Sedangkan doa-doa yang diajukan oleh mereka yang menghabiskan waktu di kala senang dengan mengumbar nafsu (hedonisme) mereka, baru kemudian merintih dan mendoa di kala susah, tak akan makbul.
            Pintu taubat tertutup manakala azab Ilahi telah ‘datang mendera.
            Maka sungguh beruntunglah mereka yang senantiasa sibuk berdoa sebelum datangnya azab Allah Taala; banyak bersedekah; taat kepada berbagai perintah-Nya dan asih terhadap ‘sesama ciptaan Allah.
            Itulah berbagai tanda hasanah-mereka; yakni, pohon dapat dikenali dari buahnya.
            Begitupula, mudah untuk mengenali mereka yang dirahmati, dan mereka yang patut dijauhi.’
            Jadi, maksud dari penyampaian berbagai ikhtisar sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini adalah untuk memahami kiat meningkatkan ta’aluq billah; untuk memperoleh cara dan sarana berdoa, serta memperbaiki diri dan beramal-shalih.
            Sehingga, kita pun mendapatkan kiat yang tepat dalam berdoa, dan termasuk orang yang memperoleh ‘…..fiid-dunyaa hasanah, wafil aakhirati hasanah….’
            Ini adalah perkara penting yang patut difahami sebagaimana telah disampaikan oleh seorang pecinta dan hamba sejati Hadhrat Rasulullah Saw, yakni Imam Zaman, Al Mahdi Al Mau’ud a.s., yang kita telah memperoleh karunia untuk Bai’at di tangan beliau.
            Yakni, manakala hal ini sudah difahami, hendaklah dipraktekkan, sehingga nyatalah perbedaan antara orang mukmin haqiqi dengan mereka yang hanya pernyataan di bibir saja.
            Al Quran Karim telah banyak mengilustrasikan perkara doa di berbagai  tempat yang harus difahami.
            Untuk itu, kita perlu memahaminya berdasarkan penjelasan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s., agar kita pun dapat berdoa dengan memahami hikmah dan falsafahnya, sehingga membuahkan berbagai hasilnya.
            Senyatanya, Allah Taala tidak memerlukan doa kita. Melainkan kita-lah yang memerlukannya sedemikian rupa agar menghasilkan buahnya. Dan Allah Taala telah memerintahkan kepada Hadhrat Rasulullah Saw untuk memperingatkan: ‘…..Qul maa ya’ba’uu bikum rabbi laulaa du’aa ‘ukum…..’,
yakni, ‘Katakanlah kepada kaum kafirin itu: Tetapi doamu kepada-Nya, yakni Tuhan-ku tidak mempedulikannya…’ (Q.S. 25 / Al Furqan : 78).
            Menjelaskan [tafsir] ayat ini,  Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis: ‘Seorang ‘abid-kamil’ (atau ibadullah yang sempurna)  boleh jadi adalah ia yang memberi faedah kepada orang lain.
            Akan tetapi ayat ini mengklarifikasikan hal yang lebih luas lagi. Yakni, ‘Katakanlah kepada seluruh manusia [wahai Muhammad]: ‘Jika kalian tidak menyeru kepada Allah, maka Dia pun tak akan mempedulikan kalian.’
            Dengan kata lain, Allah hanya peduli terhadap mereka yang telah menjadi abid-Nya yang haqiqi.’
            Yakni, jika kita ingin ber-ta’aluq billah, ingin menyaksikan penzahiran berbagai keinginan baik kita, dan hancurnya para musuh, maka berusahalah untuk menjadi para ‘kamil abid’ Ilahi.
            Semoga Allah Taala memberi taufik kepada setiap diri kita untuk melaksanakannya. Amin !
            Sekarang ini, kedengkian, kedhzaliman dan kedegilan para musuh terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah melampaui batas.
            Situasi buruk ini utamanya terjadi di Pakistan, kemudian di beberapa daerah di India, lalu berpengaruh pula hingga ke Afrika.
            Mereka tak melewatkan setiap kesempatan untuk melakukan penghinaan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s..
            Mereka senantiasa ingin melihat cedera hati pada kaum Ahmadi.
            Padahal, sesungguhnya kecintaan dan kesetiaan kaum  Ahmadi terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s. timbul dari kenyataan, bahwa beliau itulah pecinta dan hamba Hadhrat Rasulullah Saw yang termulia. Inilah ‘‘kesalahan’’ kaum Ahmadi yang tertanam di dalam qalbu kita oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s..
            Hubungan kecintaan kita dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah juga disebabkan: Melalui perantaraan beliaulah kita memperoleh pemahaman yang haqiqi mengenai Tauhid Ilahi.
            Maka mereka yang melampaui batas dalam hasad mereka terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sesungguhnya adalah melawan seorang pecinta dan hamba Hadhrat Rasulullah Saw yang sejati; seorang Penyeru kepada Tauhid Ilahi; dan yang kepadanya Allah Taala mempedulikannya.
            Dan sesungguhnya pula, ‘tak ada lagi seorang ‘Abid-Kamil’ yang mulia di zaman ini selain daripada Hadhrat Masih Mau’ud a.s..
            Kita telah menyaksikan berbagai nasib akhir para musuh di masa-masa yang lampau; yang kita masih terus saksikan hingga kini.
            Di Pakistan, mereka yang sangat menghinakan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah dicengkeram sedemikian rupa oleh Allah Taala hingga tak berdaya.
            Mereka yang mengamati situasi di Pakistan, tanpa harus menyebutkan namanya, dapat menyaksikan betapa Allah Taala telah menangkap mereka yang mencaci-maki, yang menistakan, dan mengaku takwa itu, dihinakan dan diusir dari ‘kampung dan oleh kaumnya sendiri disebabkan berbagai kejahatannya.
            Atau, mereka dihinakan Allah Taala dengan berbagai cara lainnya, sehingga para pendukung mereka pun menjadi dipermalukan. Sehingga keimanan kaum Ahmadi meningkat.
            Berbagai tuduhan fitnah mereka menjadi sia-sia; sehingga tak dapat mereka ulangi lagi.
            Mayoritas masyarakat di Pakistan sudah apatis atau takut. Sebagaimana juga yang terjadi di beberapa wilayah India.
                        Yakni, meskipun sudah menyaksikan kehinaan itu, mereka tak tertarik untuk menyimpulkan, bahwa semua itu disebabkan kedhzaliman mereka terhadap seorang Utusan Allah Taala.
            Tetapi di beberapa bagian dunia lainnya seperti di Afrika, manakala mereka menyaksikan kondisi memprihatinkan para pemimpin agama mereka, mereka pun tertarik kepada [Islam] Ahmadiyah.
            Itulah keberanian mereka setelah memperoleh pelajaran dari berbagai perbuatan buruk dari apa yang mereka sebut sebagai para ulama mereka.
            Namun saya ingatkan agar kaum Ahmadi jangan sampai terpancing oleh perbuatan pihak musuh tersebut.
            Yakni, ada seorang Ahmadi yang baru-baru ini menulis kepada saya, bahwa kebencian terhadap Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sudah keterlaluan, sehingga pihak lawan melakukan segala cara yang buruk.
            Mereka mencoreng-moreng atau semacamnya terhadap foto wajah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang sungguh keterlaluan; yang dapat membakar hati kaum Ahmadi.     Pihak musuh memasang berbagai poster penghinaan sedemikian rupa, yang bahkan membuat pihak ghair-Ahmadi berfitrat baik pun mencopotinya dari tembok dinding rumah mereka.
            Maka saya membalas suratnya itu agar bersabar. Semakin buruk pihak musuh dalam kebencian mereka, semakin banyak kita memperoleh pelajaran agar kembali dan ber-ta’aluq sepenuhnya kepada  Allah Taala.
            Sebab, mereka itu mengundang maut atas diri mereka sendiri. Mereka yang menimpakan kehinaan terhadap seorang Utusan Allah senantiasa dihancurkan. Sebagaimana Pandith Lekh Ram yang diazab Ilahi, begitupula nasib mereka itu.
            Apa yang perlu kita lakukan dalam memperlihatkan luka hati,  terbakar, dan nyeri adalah menyerahkannya kepada Allah Swt.
            Hadhrat Masih Mau’ud a.s.  bersabda: ‘Aku sedang mendoakan para anggota Jama‘at-ku dan juga Qadian ketika ilham Ilahi ini ‘datang kepadaku: ‘Mereka telah tersesat dari kehidupan yang patut; ‘….Maka hancurkanlah mereka dengan selumat-lumatnya’; [‘….sahhiqhum tas-hiiqaa !’].
            Hadhrat Masih Mau’ud a.s. [as] bersabda: ‘Akupun heran mengapa perintah ‘sahhiqhum tas-hiiqaa’ itu dinisbahkan kepadaku.
            Kemudian pandanganku pun tertuju kepada sebuah doa yang tertulis di dinding kamar Baitud-Doa yang sebagai berikut:  [‘Yaa rabbi fasma’u du’aa’ii,  wa majjiq a’daa’aka, wa’a-daa’I, wanjij wa’daka, wanshur abdaka, wa arinaa ayyamaka, wa syahhirlanaa husaamaka,  wa laa tajar minal kaafiriina syariira’], yakni, ‘Ya Tuhanku, dengarkanlah doaku, cerai-beraikanlah musuh-Mu dan musuh-musuhku; sempurnakanlah janji-Mu, tolonglah hamba-Mu; perlihatkanlah hari-hari-Mu; hunuskanlah pedang-Mu, dan janganlah Engkau biarkan kejahatan orang-orang kafir.’
            Mengaitkan ilham tersebut dengan doa ini, akupun menjadi faham, bahwa kinilah saatnya bagi kemakbulan doa-doaku.’
            Adalah sudah merupakan Sunatullah, bahwa barangsiapa yang menghalangi jalan seorang Utusan Ilahi, maka Allah Taala pun akan menyingkirkan mereka.
            Hari-hari ini adalah demikian banyaknya hujan rahmat dan karunia Ilahi, yang bila kita mengamati betapa Dia telah menzahirkan segalanya, keimanan dan keyakinan akan keberadaan Wujud-Nya pun semakin teguh.’ [Al-Hakam, Vol. 8, No.13, April 24, 1904, p.1 – Tadhkirah,English,pp.664-665].
            Yakni, kini pun keberadaan Allah Taala mewujud. Di satu pihak penghinaan terus menerus mereka lakukan; namun kemajuan kita pun semakin meningkat.
            Tak diragukan lagi banyak kalangan masyarakat yang baik di tiap-tiap negeri, sebagaimana yang diperlihatkan oleh mereka yang mencabuti berbagai poster penghinaan itu dari dinding-dinding rumah mereka. Tetapi sikap mayoritas mereka yang baik itu ‘bisu’ (atau tak mau menyuarakan ketidak-setujuan mereka).
            Hadhrat Khalifatul Masih Tsalish (III) r.a. biasa menyebut mereka yang berakhlak baik itu ‘bisu’, tak bersuara (silent majority).
            Akan tetapi kini, kalangan terpelajar tersebut mulai menulis dalam Bahasa Inggris di berbagai media pers yang menyuarakan ketidak-setujuan mereka terhadap berbagai kedzaliman itu.
            Jadi, kita dapat mengatakan, bahwa doa yang diilhamkan Allah Taala kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu adalah untuk melindungi negara [Pakistan].  Sehingga kalangan warga negara yang berfitrat baik, terutama lagi adalah Kaum Ahmadi dapat diselamatkan dari perbuatan buruk orang-orang dhzalim tersebut,.
            Adalah semata-mata karunia Allah Taala yang senantiasa melindungi kita hingga detik ini dari berbagai siasat berbahaya pihak musuh.
            Dan sebagaimana telah saya ingatkan sebelumnya, jika kita dapat menyesuaikan amal perbuatan kita yang sesuai dengan Keridhaan Allah Taala, dan ber-ta’aluq kepada-Nya, maka niscaya inqillabi haqiqi itupun akan segera terjadi.
            Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Di antara waktu doa-doa dipanjatkan  dan pengabulannya, seringkali si pemohon harus menghadapi berbagai ujian dan cobaan, yang di antaranya sungguh meletihkan.
            Namun bagi mereka yang istiqamah dan ber-sahibul fitrat [baik], tetap dapat mencium harum semerbak Keridhaan Ilahi di dalam berbagai ujian dan rintangannya itu. Firasatnya mengatakan, bahwa semua ujian dan cobaannya itu akan diikuti dengan nushrat pertolongan Ilahi.
            Hikmah dari berbagai cobaan tersebut justru membuat mereka semakin giat berdoa.
            Yakni, semakin besar kesengsaraan si pemohon, semakin mencair pula jiwanya.
            Inilah salah satu fakta dari makbuliyatnya doa-doa.
            Maka janganlah berputus-asa dan berprasangka kepada Allah  dengan memperlihatkan ketidak-sabaran dan ketergesa-gesaan.
            Jangan sekali-kali berpikir bahwa doamu tak diterima, ataupun tak akan diterima.
            Sebab, pikiran tersebut sama dengan menafi’kan sifat [Al Mujib] Allah, Maha Penerima segala doa.’ [Malfuzat, Vol.IV, pp. 434. Essence of Islam,Vol.II, p.222].
            Maka yang diperlukan dari kita adalah senantiasa yaqin dan terus berdoa sesuai dengan kaidah dan persyaratannya sebagaimana yang telah saya sampaikan dengan merujuk kepada sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s..
            Hendaklah senantiasa yaqin sepenuhnya bahwa Firman Allah tak ‘akan pernah menyimpang, sebagaimana dinyatakan-Nya : ‘….ud’uunii astajiblakum….!
Yakni, ‘…Berdoalah kepada-Ku; Aku akan mengabulkan bagi kamu…’ (Q.S. 40 / Al Mumin : 61).
            Namun penekanannya di sini adalah, kita harus mengajukan doa sesuai dengan beberapa syarat dan kondisinya yang tertentu. Yakni, ingatlah, bahwa Allah Taala telah menetapkan suatu saat tertentu bagi makbuliyatnya doa-doa.
            Dan bila setiap ujian serta cobaan membuat kita kembali kepada-Nya, maka Insya Allah kita pun akan dapat mengalami kemakbulan doa-doa.
            Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Orang tak akan pernah mendapatkan faedah doa sebelum ia memperlihatkan kesabaran yang luar biasa; terus menerus berdoa dengan istiqamah; dan tidak berprasangka buruk terhadap Allah Taala; melainkan yaqin, bahwa Dia itu adalah [Al Qadir], Pemilik Segala Kekuasaan.
            Yaqinlah, dan dawamlah berdoa dengan sabar.
            Sebab, saatnya akan tiba, ketika Dia mendengar doa-doa hamba-Nya.
            Mereka yang menjalankan kiat ini tak akan pernah gagal atau mahrum; melainkan senantiasa memperoleh falah keberhasilan.
            Allah Taala memiliki kekuasaan yang tak terhingga. Namun Dia pun menetapkan kaidah syarat adanya kesabaran luar biasa bagi pengabulan berbagai keinginan manusia.
            Dia tak akan pernah merubah Sunnah-Nya ini. Maka barangsiapa yang mengharapkan adanya perubahan ini, adalah ‘lancang tak beradab.
            Ada setengah orang yang tak sabaran. Mengharapkan segalanya sim-salabim serba cepat.
            Ketergesa-gesaan dari orang yang tak sabar tak berpengaruh apapun terhadap Allah Taala. Melainkan hanya akan membahayakan  dirinya sendiri.
            Lihatlah contoh kesabaran ayahanda Hadhrat Yusuf a.s., yang terus menerus berdoa selama 40 (empat puluh) tahun hingga doanya menjadi makbul.
            Yakni, meskipun beliau tak mendapat kabar berita, namun bersabda: ‘….inni la-ajiduriiha Yusufa…’
yakni, ‘…Sesungguhnya, aku mencium bau Yusuf…’ (Q.S. 12 / Yusuf : 95); dan beliau r.a. tetap teguh beristiqamah.
            Jadi, demikian lamanya waktu pengabulan doa-doanya justru menunjukkan bahwa hal itu akan dimakbulkan.
            Orang yang baik tak akan pernah membiarkan seorang pengemis berlalu dengan tangan hampa setelah sekian lama menungguinya. Bahkan orang yang bakhil pun tidak akan begitu. Melainkan, ia akan memberikan barang sesuatu.
            Maka kita yang luka di hati ini bukan disebabkan kepentingan pribadi, melainkan kenyataan telah menerima kebenaran seorang Imam Zaman; kita dijadikan bulan-bulanan oleh pihak lawan hanya disebabkan telah mengimani seorang rasul Ilahi di Zaman ini. Kita beristiqamah menghadapi semua hal ini semata-mata demi Lillahi Taala; maka sudah barang tentu Allah pun akan mendengarkan doa-doa kita.
            Dan kemajuan Jamaat Ahmadiyah adalah contoh hidup dari hal tersebut.
            Siasat buruk para musuh sedemikian sengit. Hanya semata-mata rahimiyyat Allah Taala untuk meneguhkan keimanan kita, maka Dia pun berkali-kali menghancurkan berbagai siasat buruk mereka itu.
            Dan sikap anti mereka itu tidak hanya di Pakistan saja, namun dapat ditemukan juga di beberapa negara lainnya.
            Akan tetapi, kemajuan Jama’at pun tetap tak dapat dihalang-halangi.
            Ada seorang wartawan yang bertanya pada kesempatan acara Soal Jawab di Gedung Parlemen Uni Eropa yang lalu. Katanya: ‘Berapakah jumlah seluruh kaum Ahmadi ? Dan bagaimanakah perbandingannya dengan kaum Muslimin seumumnya ?
            Maka saya segera menyadari, bahwa pertanyaannya itu akan mengarah kepada pertanyaan berikutnya: Bukankah dengan jumlah sekecil itu  berarti ajaran cinta damai yang disyiar-luaskan oleh Jamaah tuan tak penting ?
            Maka saya pun segera teringat kepada jawaban Hadhrat Khalifatul Masih Tsani (III) r.a. terhadap seorang wartawan media Barat mengenai jumlah anggota Jama’at ini.
            Yakni, beliau r.a. menjawab: ‘Insan yang pada 93 (sembilan puluh tiga) tahun yang lalu hanya seorang diri itu, kini telah menjadi ‘hampir 10 (sepuluh) juta orang.
            Jadi, saya pun menjawab pertanyaan tersebut dengan: ‘Jamaat Ahmadiyah yang didirikan pada 123 tahun yang lalu ini, dengan karunia Allah Taala, anggotanya kini telah menjadi puluhan juta orang. Dan waktunya telah dekat ketika dunia akan menyaksikan kami sebagai suatu Jamaah yang berpengaruh.’      Namun, hendaknya kita senantiasa ingat, bahwa pengaruh apapun yang kita dapatkan, tidaklah bertujuan duniawi. Melainkan, demi untuk menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi, dan menyebar-luaskan cinta kasih dan kedamaian di dunia.
            Janganlah khawatir bahwa kedhzaliman para penentang akan menghalangi tugas ataupun kemajuan kita.
            Melainkan, Allah Taala senantiasa mengaruniai kemajuan dan peningkatannya.
            Bahkan, bukan itu saja; yakni, dengan menggambarkan [hasanah] di Hari Kemudian para abdi-Nya yang haqiqi, dan nasib buruk para penentang sebagaimana yang dinyatakan di dalam Al Quran Karim, Allah Taala mengaruniai kita ketenteraman qalbu.
            Yakni, ayat-ayat yang telah ditilawatkan di awal Khutbah tadi telah mengilustrasikan yang nyata dan berbeda mengenai nasib [naas] akhir kehidupan kaum dhzalimin tersebut.
            Itulah gambaran akhir kaum yang menganiaya seorang Utusan Ilahi.
            Yakni, Allah Taala akan mengatakan [hal itu] disebabkan mereka tak hanya menghina dan mendhzalimi orang-orang yang dimuliakan-Nya, tetapi bahkan juga menghalangi syiar tabligh mereka kepada orang lain.
            Maka betapa malangnya kini mereka itu
            Sedangkan bagi mereka yang menerima seorang Utusan Ilahi sesuai dengan perintah-Nya, Allah Taala  akan mengatakan, bahwa berhak atas karunia rahimiyyat dan ‘surga al-Jannah-Nya.
            Dia akan memberi ganjaran berbagai kedhzaliman yang mereka jalani dengan kasih ‘sayang-Nya. Allah Taala akan mengatakan, bahwa mereka yang mendhzalimi para abdi-Nya yang haqiqi sudah sedemikian buta-nya sehingga mereka pun melupakan kewajiban berdzikrullah, dan mengabaikan balasan membunuh orang-orang Mukmin adalah neraka Jahannam.
            Mereka melupakan kewajiban ber-haququllah dan ber-haququl-ibad.
            Mereka melucuti harta benda milik orang-orang tak berdosa, membakarnya, mengganggu business mereka, dlsb, dlsb, hingga sedemikian panjangnya kejahatan mereka terhadap kaum yang tak berdosa.
            Maka kini Jahannam-lah ganjarannya.
            Inilah yang dinyatakan oleh Al Qur’an Karim.
            [Di lain pihak] Allah Taala akan mengatakan bagi mereka yang mencari rahimiyyat-Nya dengan cara memperlihatkan kesabaran dan keteguhan iman, dan mereka pun kembali kepada Allah serta menjadi abid-Nya yang haqiqi, akan dimasukkan ke dalam golongan mereka yang memperoleh kasih ‘sayang dan maghfirah Ilahi.
            Jadi, ayat-ayat Al Quran Karim tersebut adalah furqan pembeda bagi mereka yang Mu’min haqiqi dan ghair-Mum’in !
            Semoga Allah Taala memasukkan kita ke dalam golongan mereka yang memperoleh rahimiyyat dan maghfirah-Nya.
            Semoga Allah men-sattari segala kedhaifan dan kekhilafan kita. Semoga perhatian kita tetap kepada berdoa dengan istiqamah. Dan semoga pula kita dimasukkan ke dalam golongan mereka yang ‘…annahum humul faa’idzuun.; yakni, ‘…hanya mereka itulah yang memperoleh kemenangan.’. Amin !

oo0O0oo
MAS/LA/ 20130321

Tidak ada komentar:

Posting Komentar